Kembali ke Tangerang membawa sejuta hikmah. Selain kembali berkumpul dengan keluarga, bertemu dengan teman2 lama yang hampir selama kurang dari 6 tahun tidak pernah bertemu. Hikmah yang saya temui sebagian besar tentang kisah2 yang saya belum dengar tentang sahabat2 saya tentunya. Sebenernya saya bukan yang hilang dari peredaran sama sekali, hanya saja intensitas pertemuan saya berbeda dengan mereka, ketimbang teman2 saya yang kuliah di sekitar jabotabek atau bandung. Saat silaturahmi lebaran beberapa tahun belakangan, saya menyempatkan hadir -biasanya UNDIP selalu libur paling belakangan-. Obrolan terakhir mulai agak lain, karena mulai beberapa teman saya memutuskan menikah, jadi obrolan seputar rencana pernikahan. Yang paling dimintai ‘pertanggungjawaban’ pastinya teman saya yang sudah menjalin komitmen sejak lama, salah satunya sahabat saya yang diwakilkan oleh si pria -sahabat saya baru akan menjalankan wisudanya-. Sahabat saya ini sudah menjalin komitmen sejak tahun pertama di sekolah, si pria menjawab dengan jawaban yang lumayan bijak dan menenangkan bagi pihak pasangannya. Singkat cerita, kabar yang saya dengar sama sekali jauh dari angan2 kami, si pria memutuskan komitmen dengan alasan tertarik dengan yang lain. Hikmah yang saya bisa ambil, jangan terlalu banyak memiliki rencana diluar jangkauan kita, selalu minta petunjuk pada Sang Maha Pembuat Skenario supaya bisa diberi tahu yang mana cobaan yang mana pertanda, jangan membuat kriteria tertentu meskipun dia tidak bekerja di perusahaan multinasional, meskipun dia sulit membedakan antara sunset dan sunrise, meskipun kadang2 lampu motornya suka mati mendadak, meskipun dia berkacamata tebal, atau bentuk fisiknya kadang2 membuatnya blended dengan benda mati di keramaian. Meminjam istilah abg jaman sekarang, so what gitu lho.