Archive for May, 2006

Cinta Entah Dimana

Friday, May 26th, 2006

Saya selalu ingat kata2 bijak Gde Prama tentang hidup, hidup itu seperti sungai, kita punya pilihan untuk menghadapinya. Kita berenang di sungai, selalu mengikuti kemana arus sungai mengalir dan kita selalu terombang ambing di dalamnya.  Atau kita berpegangan di sisi sungai, walaupun terasa arusnya namun kita tidak terhanyut di dalamnya. Pilihan ketiga adalah kita berdiri di atas jembatan, kita menatap dari atas jembatan ketika keceriaan dan kesedihan datang menghampiri tanpa kita larut di dalamnya. Saya memilih untuk menghadapinya dengan cara ketiga walaupun ternyata tidak mudah seperti yang saya duga sebelumnya. Saya belum bisa menerapkan dalam menghadapi keceriaan dan kesedihan atas nama cinta. Saya belum siap ketika kesedihan itu hadir di sungai kehidupan saya.

Mari Berhitung

Thursday, May 25th, 2006

Setiap hari sebelum memulai aktivitas, saya selalu menyempatkan menonton salah satu acara kajian yang menyentuh qolbu di salah satu stasiun TV swasta. Beberapa minggu lalu, karena terburu2 saya hanya mencoba berkonsentrasi mendengarkan tanpa melihat gambarnya, suara yang saya lumayan hafal adalah Ust Arifin Ilham bersama seorang lagi –yang hendak memberi kajian–namun saya tidak memperhatikan identitasnya. Tapi kajian yang diberikan sangat menyentuh sekali, beliau mencoba untuk menghitung mundur umur kita sehingga tau berapa tahun yang kita gunakan untuk beribadah. Beliau mencontohkan dengan umurnya yang sekarang, yaitu 38 tahun dikurangi akil baligh 12 tahun yang tersisa 26 tahun. Setelah itu, sang Ustadz mencoba merunut sholat ibadah yang dijalaninya setiap hari dengan menghitungnya sepuluh menit setiap kali sholat sehingga diperoleh dua jam sehari. Namun ketika kita menghitungnya sesuai umur yang telah dikurangi akil baligh, kita mendapatkan waktu ibadah yang telah dijalankan beliau yaitu hanya dua tahun. Bandingkan dengan jumlah umurnya sekarang. Saya jadi berkaca dengan diri saya sendiri, setiap sholat saya belum tentu sampai sepuluh menit malah terkadang kurang dari lima menit. Itu belum termasuk yang tidak khusyuk pikiran melayang entah kemana, tentu saya sangat tidak sebanding kualitasnya dengan sang Ustadz. Bagaimana saya mengharapkan surga atas semua ibadah saya, sedangkan sang Ustadz sendiri begitu rendah hati mengakui intensitas ibadahnya selama hidupnya adalah tidak seberapa. Kemudian, sang Ustadz berujar,lalu apa yang membuat kita masuk surga, jawabannya adalah Rahmat 4JJI semata.  Saya jadi ngeri dan bertanya dalam hati, apakah ibadah saya dapat menghapus segala dosa saya selama ini. 4JJI Maha Pengasih dan Penyayang kepada manusia yang selalu meminta ampunan dan perlindungan-Nya, yang hanya bisa dilakukan manusia hanya selalu bertobat dan memohon petunjuk agar setiap jalan yang dilalui senantiasa diridhoi 4JJI subhanahu wata’alaa. Insya4JJI.

Brilky Oh Brilky

Friday, May 19th, 2006

Brilky sebenernya nama kelompok persahabatan kami waktu di SMA. Sebelum jamannya AADC lho. Kami sebenernya berdelapan, tapi sayang salah satu temen kamu sudah menghadap 4JJ I. Menceritakan mereka itu identik sama curhat, ketawa dan makanan. Selalu ada tempat buat saya untuk berbagi dan mendapatkan sesuatu yang berupa umpan balik positif, mereka bisa membuat sesuatu yang sedih berdarah2 jadi sesuatu yang lucu dan ringan tentu saja. Satu lagi soal makanan, terbukti berat badan tertinggi saya ketika di SMA karena ada teman saya yang selalu concern dengan pencapaian kalori saya setiap harinya, gila ya. Kami punya berbagai istilah yang untuk kalangan terbatas, daftar gebetan yang segambreng, dan tidak ketinggalan daftar tempat makan favorit. Kami sempet terpisah untuk waktu yang cukup lama, untuk kuliah di pilihan masing2. Tahun ini, satu2 mulai kembali ke Tangerang dan mulai aktualisasi diri. Ternyata ga ada satupun yang berubah, cara bicara, model guyonan, hanya status yang berubah mulai dari profesi sampai  pasangan.

Baca Hatiku

Friday, May 19th, 2006

Kenapa harus berlari,
kalau tenyata kita salah jalan.
Kenapa harus terbang,
kalau ternyata awan bukan tempat kita.

Tante Oneng vs Paijo

Friday, May 19th, 2006

Paijo adalah keponakan saya, umurnya masih 3 tahun. Nama aslinya adalah M.Faisal Ardan, Paijo itu nama alias yang diberikan kami lengkapnya Paijo Wongso Dikromo. Dia sering menyebut saya Tante Oneng, kalau lagi sebal karena saya selalu menggoda dengan mengganti channel TV iklan sabun kecantikan versi Dian Sastro. Idolanya memang Dian Sastro, "because she’s beautiful Tante Oneng" begitu selalu memberi alasan. Kami punya banyak kemiripan, selain bentuk fisik yang sama2 slim alias ramping, kami juga sama2 menyukai pantai. Liburan bulan lalu, secara tidak sengaja saya diajak ke pantai olehnya ketika berada di Jogja. Pantai yang belum pernah saya kunjungi, lokasinya berada di satu garis pantai dengan Parangtritis, tapi lebih bersih tentu saja. Selain itu, waktu saya kecil kebiasaan saya sama dengan Paijo suka corat-coret, mengulang tontonan yang ternyata siaran TV, kan ga mungkin banget.

 

9 Tahun Belum Cukup

Thursday, May 11th, 2006

Kembali ke Tangerang membawa sejuta hikmah. Selain kembali berkumpul dengan keluarga, bertemu dengan teman2 lama yang hampir selama kurang dari 6 tahun tidak pernah bertemu. Hikmah yang saya temui sebagian besar tentang kisah2 yang saya belum dengar tentang sahabat2 saya tentunya. Sebenernya saya bukan yang hilang dari peredaran sama sekali, hanya saja intensitas pertemuan saya berbeda dengan mereka, ketimbang teman2 saya yang kuliah di sekitar jabotabek atau bandung. Saat silaturahmi lebaran beberapa tahun belakangan, saya menyempatkan hadir -biasanya UNDIP selalu libur paling belakangan-. Obrolan terakhir mulai agak lain, karena mulai beberapa teman saya memutuskan menikah, jadi obrolan seputar rencana pernikahan. Yang paling dimintai ‘pertanggungjawaban’ pastinya teman saya yang sudah menjalin komitmen sejak lama, salah satunya sahabat saya yang diwakilkan oleh si pria -sahabat saya baru akan menjalankan wisudanya-.  Sahabat saya ini sudah menjalin komitmen sejak tahun pertama di sekolah, si pria menjawab dengan jawaban yang lumayan bijak dan menenangkan bagi pihak pasangannya. Singkat cerita, kabar yang saya dengar sama sekali jauh dari angan2 kami, si pria memutuskan komitmen dengan alasan tertarik dengan yang lain. Hikmah yang saya bisa ambil, jangan terlalu banyak memiliki rencana diluar jangkauan kita, selalu minta petunjuk pada Sang Maha Pembuat Skenario supaya bisa diberi tahu yang mana cobaan yang mana pertanda, jangan membuat kriteria tertentu meskipun dia tidak bekerja di perusahaan multinasional, meskipun dia sulit membedakan antara sunset dan sunrise, meskipun kadang2 lampu motornya suka mati mendadak, meskipun dia berkacamata tebal, atau bentuk fisiknya kadang2 membuatnya blended dengan benda mati di keramaian. Meminjam istilah abg jaman sekarang, so what gitu lho.

Tidak Cukup denganTiga Kata

Tuesday, May 9th, 2006

Saya selalu bingung ketika menghadapi interview yang bertanya "deskripsikan dirimu dengan tiga kata", entah kenapa saya jadi speechless alias bego. Ini bukan berarti saya tidak mengenal diri saya sendiri atau karena saya memiliki kepribadian ganda -serem banget seh-. Tapi karena saya hampir tidak pernah mendeskrisipkan diri saya sendiri, saya menganggap yang berhak menilai diri kita sendiri adalah orang lain, yang terpenting adalah kita mengetahui setiap sisi dari kepribadian kita dan tau bagaimana me-maintance-nya. Contohnya, saya tau bagaimana saya harus bersedih ketika kecewa atau berbahagia ketika impian saya terwujud bahkan ‘menyelesaikan’ jiwa saya ketika menghadapi persoalan, saya pikir itu sudah cukup.
Setelah saya renungkan, cepat atau lambat saya mesti memikirkan jawaban HRD tadi yang sewaktu-waktu ditanyakan kembali. Mungkin dalam ‘interview’ berikutnya.
Saya bukan orang yang menonjol2 amat, baik dari segi fisik ataupun kepribadian dengan kata lain I’m just ordinary people. Di rumah saya bisa jadi sangat bawel melebihi ibu saya, ketika orang di rumah tidak meletakkan barang pada tempatnya, adik saya yang laki-laki berlatih gitar listrik sampai kuping merah, atau salah seorang anggota rumah mau ujian. Tapi saya bisa jadi sangat pendiam ketika kurang nyaman dengan keadaan walaupun orang2nya sudah dikenal, marah sekali karena kalau maksa bicara yang ada cuma nangis kesal, ga akan memberikan kompensasi apapun jika bicara.
Sebenernya saya dalam kategori mudah dan tidak canggung dalam bergaul, selama tidak mengganggu batas2 pribadi saya. Bagi saya semua orang sama saja, punya sisi positif dan negatif. Yang terpenting mereka tidak ‘palsu’ didepan saya. Tapi ya kalau ada yang terlalu ‘ajaib’ ya mendingan kabur aja deh ;-p
Ketika saya berada di lingkungan yang nyaman, saya jadi ekspresif lebih mirip radia AM yang jarang memutar lagu karena sebagian besar diisi oleh pembicaraan si penyiar.