Archive for June, 2006

Urusan Perut

Monday, June 26th, 2006

 

Perut
menjadi fenomena baik dari segi bentuk maupun fungsi. Karena perut
mengakibatkan terhambatnya peredaran sebuah film nasional yang posternya
mempertontonkan daerah perut. Dengan mengatasnamakan seni, perut menjadi salah
satu komoditi yang menjual hingga menimbulkan kontroversi. Karena perut lapar,
orang bisa berbuat nekat dari mencuri, merampok bahkan membunuh. Baru2 ini
seorang ibu di

Bandung

membunuh ketiga anaknya hanya karena merasa tidak sanggup memenuhi kebutuhan
hidup mereka terutama urusan perut. Sampai2 ada sahabat saya merasa bahwa
lingkungan tempat dia berada sudah tidak aman lagi, dia selalu beranggapan
dunia di luar kostnya selalu mengancam. Sambil berbisik, dia memberitahu saya,
dia selalu membawa pisau lipat jika bepergian di luar rumah. Dia menganggap
kejahatan di

kota

besar dilakukan perkelompok dan meminta pertolongan hanya tinggal harapan yang
sia2. Saya percaya masih banyak orang baik2 di luar

sana

. Tetap berbuat baik bisa merupakan
‘tabungan’ dimasa2 sulit. Ndhut, cari bentuk pisau yang lebih bersahabat  ya.

Memori Baked Potato

Monday, June 26th, 2006

Lagi
dangdut nih, tiba2 saya ingin sekali makan baked potato –sudah lama saya tidak
mengkonsumsi fastfood- Seperti apa ya rasanya, terakhir saya makan sebelum
krisis ekonomi 98 seharga 5000 rupiah, setelah rupiah melemah dan harganya
melonjak menjadi berlipat2. Terang saja saya berpikir dua kali untuk
menikmatinya. Waktu itu uang jajan saya tidak seberapa, bagi saya makan baked
potato sama saja memotong budget nonton dan membeli kado sweet seventeen teman2
saya. Pertama kali saya mengenal baked potato dari sahabat saya –almh-, dan
sebenarnya saya lebih teringat dengannya ketimbang rasa baked potato itu
sendiri. Sahabat saya seorang –half- vegetarian, selain itu kita juga punya
segudang perbedaan yang pada awalnya suka mengganggu masing2 dari kita tapi
lama kelamaan kita dapat menyiasatinya. Contoh kecilnya yang terjadi pada
pengalaman pertama makan baked potato. Pada saat kita berdua jalan2 ke
mall-duilee- hanya sekedar menghabiskan sisa uang saku minggu lalu. Kerepotan
terjadi ketika jam makan siang dan kita memilih makanan yang dijual di restoran
murah tentunya. Sambil bingung memilih tempat makan yang sesuai –padahal dia
tidak suka segala jenis daging- ada satu restoran siap saji yang memampang menu
baked potato dengan dua pilihan, with mayonaise dan with chilli and meat.
Kontan saja kita langsung menjatuhkan pilihan. Ternyata menu tersebut terdiri
dari kentang berukuran ekstra ditambah saus mayonaise dan brokoli –versi
vegetarian- sementara versi lain kentang ditambah saus cabe plus daging cincang
dan semuanya bertopping keju mozarella –so yummy- Saya jadi ingat saat2 lain
yang menakdirkan kita bersama2 bertahun2. Sekelas selama di SMA, hunting kaset
(the sundays, pure Saturday, smashing pumpkins, vandella), naik becak gerobak,
maksa naik branwir pemkab, foto box, kuliah di

kota

yang sama sampai akhirnya takdir
menentukan lain. Praktis separuh memori dan rahasia saya pun ikut pergi
bersamanya. And it was so blue. Nie, semoga lo mendapatkan tempat terbaik di
sisi Allah ta’ala. Amiin. Siapa yang mau makan baked potato bareng?

Aku Ingin

Monday, June 26th, 2006

Sejuknya
hembus angin tlah redakan

Segala
amarah dalam hatimu

Terkadang
kau sendiri tak mengerti

Begitu
mudah engkau kecewa

Dan
ini sering kali terjadi

Setiap
harapanmu tak terpenuhi

 

Aku
ingin dapat bebas lepas

Aku
ingin senantiasa merasa bahagia

Aku
ingin dapat terbang jauh

Bila
tiada yang peduli

 

Kau
coba menyendiri dan membisu

Tuk
memahami isi jiwamu

Lalu
tercipta sebuah lagu merdu

Tempat
curahan segala resah

Dan
kau ceritakan pada dunia

Tentang
harapan dan angan-anganmu

Belum Saatnya

Monday, June 26th, 2006
  • Saat Pertama

Nggak sengaja direkomendasikan sahabat saya, tapi
masih terlalu pagi. Puzzle ini belum rapih benar.

  • Saat Kedua

Bertemu dengan

CLBK

,
tapi koq keliatannya sindrom Uik saya sudah pulih ya.

  • Saat Ketiga

Sistem konvesional, pembicaraan antara orang tua.
Untung Bapak-Ibu saya cukup moderat untuk urusan yang satu ini.

  • Saat Keempat

Orang lama dengan berbekal ketulusan –katanya-,
saya bahkan lupa wajahnya.

We shall see.

 

Eforbiaku Sayang

Monday, June 26th, 2006

Tanaman
ini hidup di tempat berhawa panas, terlihat dari morfologisnya batangnya
berduri tebal, daunnya seperti berlapis lilin, bunganya kecil. Nggak heran
kalau saya akhirnya jatuh cinta. Untuk memindahkannya, saya masih tergolong
amatir, selain takut dengan durinya salah2 saya memotongnya tanpa
mengikutsertakan akarnya. Sumber tanaman hias saya memang dari tante saya, walaupun setiap minggu saya mampir ke
‘kebunnya’ tetap saja selalu ada antusisme tersendiri untuk membudidayakan –ceile..-
newcomer termasuk sang eforbia.

Dear Sukma

Monday, June 26th, 2006

Dear
Sukma,

Matahari
sudah terbit

Perjalan
harus dilanjutkan

Tenaga
sudah terkumpul

Peta
sudah tersedia

Semua
rambu sudah kau hapal

 

Dear
Sukma,

Berjalanlah
ditepi

Sesekali
boleh berlari

Namun
jangan tergesa

Agar
halangan bisa terbaca

Cobaan
atau pertanda

 

Dear
Sukma,

Jika
lelah mendera

Beristirahatlah
segera

Jangan
lupa menyapa

Beruntung
ada salah satu

Memiliki
tujuan yang sama

 

Dear
Sukma,

Ajaklah
dia besertamu

Menemani
hingga akhir perjalanan

Untuk
membantu membaca rambu

Tertawa
atau menangis

Menjadi
dewasa

Bika Ambon Pertama

Monday, June 26th, 2006

Sudah
lama saya berkeinginan membuat bika ambon sendiri. Selain karena saya menyukai
kue yang satu ini karena rasanya yang yummy,
ditambah teksturnya yang lucu berongga karena proses fermentasi yang membuat
saya tertantang. Secara kebetulan ibu saya mendapat rekomendasi dari salah satu
temannya untuk mengggunakan tepung/adonan yang sudah jadi di jual di
supermarket, didorong oleh aliran hedonisme yang ingin segalanya instan, saya
akhirnya mencari tepung tersebut. Setelah membaca petunjuk pembuatan, saya
bersikeras melakukan tanpa bantuan ibu saya. Ternyata, petunjuk yang gamblang
belum mampu memudahkan proses pembuatan. Memang benar adanya pepatah learning by doing,  bika ambon pertama saya tergolong tidak
terlalu sukses.

Ada

tips berdasarkan pengalaman, pertama jangan terlalu lama mengocok telur. Kedua,
olesan margarin pada loyang harus ekstra tebal supaya tidak lengket. Ketiga,
supaya tetap berselera makan setelah membuat mendingan beli sendiri atau titip
kerabat yang ingin ke

Medan

.
Kenapa? karena selama pembuatan kita akan mengalami sindrom aroma ragi yang
menyengat yang tidak akan hilang sampai keesokan harinya….

Dangdutkah Kita

Monday, June 19th, 2006

Demi cinta rela tinggal di gubuk derita
Demi cinta rela makan sepiring berdua
Demi cinta akan mengikis perbedaan
Demi cinta semua terasa indah
Demi cinta semua masalah akan hilang

Bukan bermaksud melecehkan salah satu aliran musik, tapi meminjam istilah boleh kan. Jenis musik ini terkenal dengan lirik2nya yang apa adanya. Di jaman sekarang,  di kehidupan nyata, masih berlaku ga ya?

World Cup Fever

Tuesday, June 13th, 2006

Senangnya… walaupun ga segitunya, saya termasuk orang yang menanti2 siaran langsung disetiap pertandingan. Satu2nya kelemahan saya adalah tidak bisa menjaga mata saya hingga larut. Ada satu keganjilan diawal sebelum pertandingan dimulai, ada presenter baru yang lumayan familiar tapi koq…agak aneh ya. Kalau orang2 terdekat saya sepakat sih, komentar2nya kadang bikin gemes gimana gitu…Tolong dong stasiun televisi lebih bijak, masih banyak yang lebih berpengalaman dan tentu saja lebih muda…ups.

The Cure

Tuesday, June 13th, 2006

Mencari hikmah di setiap bencana memang ga semudah yang kita kira. Tapi kita ga boleh putus asa dan berprasangka buruk atas cobaan yang dihadapi. Kita hanya bisa berdoa semoga ada obatnya untuk menyembuhkan luka. Bangun di esok hari dan berharap semua badai akan cepat berlalu. Amiin.