Archive for July, 2006

Someone,somewhere,somehow..

Monday, July 31st, 2006

Sayup2 antara mimpi dan tidak, saya mendengar lagu ‘keramat’ om Phill Collins di radio. Sepertinya sudah menjelang dini hari, radio disini memang penuh semangat tidak seperti di Semarang yang hanya sampai jam 1 pagi. Koleksi lagu2nya juga lebih bervariasi, dulu saya tidak begitu yakin dengan prambors afiliasi Semarang, habis lagu2nya berbeda sekali. Kembali ke lagu tadi, saya sudah lama sekalai tidak mendengar lagu ini menyesal juga tidak bangun dan mendengarkannya dengan khidmat. Bukannya saya tidak mau rugi, tapi hits ini tidak pernah saya temukan di the best of Phill Collins versi manapun. Pertama dengar ya di radio, lalu ada teman smp saya yang punya kasetnya tapi kompilasi dengan penyanyi lain. Saya pikir saya bisa menemukan hits ini dalam salah satu album om Boksi ini. Kenyataannya sampai sekarang sama sekali nihil, ada teman saya yang bilang, mestinya saya cari di toko kaset lama alias ‘tradisional’. Duh segitunya.

Masih Ada Asa

Monday, July 31st, 2006

Kamis malam (27/07) saya menonton salah satu acara tv favorit saya, kickAndy , kali ini temanya tentang penderita thalassemia. Saya juga tidak begitu paham definisi tepatnya, yang saya tahu penyakit yang menyerang sel darah merah yang menyebabkan si penderita harus di transfusi secara kontinyu, begitu kira2. Intinya menghadirkan bintang tamu si penderita yang tetap berprestasi dan keluarga yang selalu memberikan dukungan. Sedih juga sih, nonton dari awal sampai akhir mata saya selalu berkaca2. Saya jadi ingat mendiang om saya -adik ipar ibu-, beliau juga penderita thalassemia mayor. Saya ingat betul, kalu Hb-nya sudah mulai turun mukanya jadi pucat, tandanya harus segera di transfusi . Karena sudah terbiasa, om saya terkadang berangkat sendiri ke rumah sakit -RSCM- karena turunnya Hb terkadang disaat yang tidak tepat -tante saya bekerja-, di sisi lain transfusi harus segera dilakukan. Lucunya, sepulang dari RSCM seperti tidak terjadi sesuatu, beliau kembali dengan muka ceria tak jarang membawa belanjaan yang lumayan banyak -om saya jago memasak, baginya hidup hanya sekali rugi kalau tidak makan enak-. Om saya pergi bukan karena beliau menyerah begitu saja, tapi dia merasa tugasnya sudah selesai, mengantarkan anak2nya hingga dewasa. Hanya adik sepupu saya yang masih sekolah. Itupun beliau meninggalkan uang saku yang cukup sampai adik saya selesai. Om saya berjuang sudah puluhan tahun semenjak beliau remaja melawan penyakit ini, kata dokter jarang ada yang bisa bertahan selama om saya yang hampir 50 tahun, kasus2 lain hanya bertahan hingga 40 tahun. Kita menjadi terbiasa saat beliau flu, namun terlihat seperti sakit yang berat sehingga menyebabkan harus opname. Kami, para keponakan yang laki2, berjaga malam harinya. Ada yang selalu menjadi kenangan selama kami menjaga beliau, walaupun sakit dia tidak pernah berhenti makan enak. Malam harinya kami selalu ditraktir nasi goreng pedas atau nasi padang komplit, tentunya tanpa sepengetahuan suster.

Cerita Waktu

Sunday, July 23rd, 2006

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai
macam benda2 abstrak: ada CINTA,
KESEDIHAN, KEKAYAAN,
KEGEMBIRAAN dan sebagainya. Mereka hidup
berdampingan
dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai
menghempaskan pulau
kecil itu dan air laut tiba2 naik dan akan
menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni
pulau cepat2
berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat
kebingungan
sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai
perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari
pertolongan. Sementara itu air makin naik
membasahi
kaki CINTA.

Tak lama kemudian CINTA melihat KEKAYAAN
sedang
mengayuh perahu.

CINTA: " KEKAYAAN! KEKAYAAN! Tolong aku!
KEKAYAAN: " Aduh! Maaf, Cinta, perahuku
telah penuh
dengan harta bendaku
Aku tak dapat membawamu serta, nanti
perahu ini tenggelam. Lagipula
tak ada tempat bagimu di perahuku ini".

Lalu KEKAYAAN cepat2 mengayuh perahunya
pergi. CINTA
sedih sekali, namun kemudian dilihatnya
KEGEMBIRAAN
lewat dengan perahunya.

CINTA:" KEGEMBIRAAN tolonglah aku!" Namun
KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena dia
menemukan
perahu sehingga ia tak mendengar teriakan CINTA.

Air makin tinggi membasahi CINTA sampai ke
pinggang
dan CINTA semakin panik. Tak lama kemudian
lewatlah
KECANTIKAN.

CINTA: " KECANTIKAN, bawalah aku
bersamamu!"
KECANTIKAN:" Wah CINTA kamu basah dan
kotor. Aku tak
bisa membawamu
ikut. Nanti kamu mengotori perahuku
yang
indah ini"

CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai
menangis
terisak-isak. Saat itu lewatlah KESEDIHAN.

CINTA:" Oh KESEDIHAN bawalah aku
bersamamu!"
KESEDIHAN:" Maaf, aku sedang sedih dan aku
ingin
sendirian saja…….". dan dia mengayuh perahunya.

CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik
dan
akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah
tiba2
terdengar suara" CINTA mari cepat naik
keperahuku!"

CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat
seorang
tua dengan perahunya. Cepat2 CINTA naik ke
perahu
itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan
CINTA
dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA
sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui
siapa
orang tua yang menyelamatkannya itu. CINTA
segera
menanyakannya kepada salah seorang penduduk
tertua di
pulau itu.

" Oh orang tua tadi? Dia adalah WAKTU"
" Tapi kenapa ia menyelamatkanku? Aku tak
mengenalnya. Bahkan teman2 yang
mengenalkupun enggan
menolongku", tanya CINTA heran.

Kata orang itu:" Sebab hanya WAKTUlah yang
tahu
berapa nilai sesungguhnya dari CINTA itu……".

Astaghfirullah…

Sunday, July 23rd, 2006

Lagi2 kita dikejutkan dengan gempa tektonik
(17/6) pukul

18:57

dan
diketahui berkekuatan 6,2 skala richter –membuat galon air dan jam dinding
bergoyang-. Seingat saya yang berdomisili dekat dengan selat sunda, gempa2
tersebut sudah sering saya alami. Biasanya tindakan pertama yang dilakukan
adalah keluar rumah atau berusaha untuk tidak berada di dalam ruangan. Namun
semenjak bencana tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias, pola pikir kami pelan2
berubah, yang semula hanya menghindari reruntuhan sekarang lebih kepada
menghindar dari bahaya tsunami yang ternyata berpotensi pada gempa berkekuatan
>6,5 skala richter dan berjarak kurang dari 30 menit saja. Itu berarti kita
hanya diberi waktu untuk memutuskan kemana mesti menyelamatkan diri kurang dari
30 menit. Gempa terakhir kemarin ternyata juga masih diikuti oleh gempa2
susulan yang membuat kita selalu waspada untuk tidak tidur senyenyak biasanya.
Saya tidak bisa membayangkan tengah malam dalam keadaan setengah tidak sadar
harus membuat keputusan untuk tetap selamat. Senin kemarin saja, kami
sekeluarga sempat kerepotan karena adik saya yang bungsu sedang MBSS –ospek
SMA- belum juga pulang. Ibu saya yang panik selalu mewanti2 kami untuk tidak
mampir2 sepulang aktivitas dan harus sering bersama bahkan untuk tidur sekalipun
Bapak saya yang berada di

Bandung

menganjurkan untuk tidak tidur dibawah ruang yang beratap cor2an semen. Mungkin
terdengar berlebihan, tapi itulah orangtua saya. Inna lillahi wa inna ilaihi
roji’uun, semoga yang berpulang mendapatkan tempat terbaik. Prihatin saya
adalah mereka yang ditinggalkan, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mereka harus
mulai dari awal lagi, bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah tapi juga
tanggung jawab kita bersama.

Shallow Mellow

Sunday, July 23rd, 2006

Through the fire, through the limit, trough the wall, for just to be with you, i’m gladly risk it all
–david foster–

That i would be good whether with or without you
–alanis morissette–

Redup kilaumu tak mengarah, jadilah diriku Selatan, namun tak kau sadari, hingga kini dan nanti..
–dee–

You have no right to ask me how i feeel, You have no right to speak to me so kind.
–david foster–

Beware of Spelling

Sunday, July 23rd, 2006

Salah ejaan bisa jadi gawat. Dalam daftar
temen2 saya di FS, ada teman saya yang bernama **r**, tidak mengenal secara
personal tapi paling tidak tau latar belakangnya. Suatu saat, saya menerima
pesan via FS, berupa pertanyaan standar namun ada kata2 saya dalam profil yang
ditanyakan ulang. Asumsi saya tentu saja ke teman saya yang disebutkan diawal,
mulanya aneh tapi saya jawab ogah2an dan pendek namun tetap terlihat ramah.
Setelah saya kirim, saya baru sadar ternyata fotonya berubah memang teman saya
menggunakan foto yang bukan identifikasi wajah dan ejaan namanya menjadi
*r****. Untuk meyakinkan, saya mengklik untuk membaca profilnya, ternyata saya
salah mengenal orang, setelah saya membaca testimonialnya saya menyimpulkan
kalau dia salah satu orang yang harus dihindari. Saya mengkonfirmasi ke 2nd
person untuk menanyakan lebih jauh, ternyata jawabannya seperti yang saya duga.
Karena sudah terlanjur, saya merelakannya. Ketika keesokan hari pesan itu
berlanjut, saya mengeluarkan jurus pamungkas saya..kabuuuuuuurrrrr.

 

Gotcha !!

Sunday, July 23rd, 2006

Sebelumnya saya ingatkan untuk tidak meniru
kelakuan saya yang lumayan sembrono, sampai akhirnya kena batunya. Saya
memiliki kebiasaan sepulang dari rumah kerabat, yang biasanya sudah larut dan
ngantuk dan merasa aman menanggalkan jilbab saya. Tapi kadang menular juga saat
bepergian dekat dan tidak menggunakan angkutan umum, biasanya saya
‘bersembunyi’ di dalam mobil. Suatu kali, mbak2 sepupu saya mengajak makan
‘sebenar-benar’ mie ayam yang katanya letaknya tidak jauh dari lokasi rumah
sepupu saya. Mbak saya bilang untuk dibawa pulang, harusnya saya curiga kenapa
semua ikut serta. Karena jilbab peniti saya hilang entah kemana, saya pun ikut
karena saya berpikir toh dibawa pulang sehingga saya bisa ‘bersembunyi’ dan
sebagai penggila mie saya harus tahu dimana tempat2 mie enak sebagai referensi.
Ternyata letak tukang mie agak jauh keluar daerah perumahan, sesampai
disana mereka tanpa basabasi turun dan
memesan sejumlah mereka beserta minuman dingin dan….di mangkok! Saya yang
sedang bersembunyi protes, “kenapa nggak di plastik aja sih…!”. Sepupu saya
bilang “kalo dibawa pulang ntar keburu dingin”. Saya setengah bingung,”trus aku
gimana..”. Mereka sambil ketawa menang “ya..kecuali kamu, dibungkus..”.Gimana
ya, terpaksa deh tetap sembunyi sambil kemecer dan satu lagi panaaaaassss gila.

 

 

Hidup Ini Indah

Sunday, July 23rd, 2006

Manusia memang memiliki keterbatasan, saya
sadar benar. Saat dimana akal sehat saya memiliki keterbatasan menganalisa
masalah, sholat dan do’a adalah jalan terbaik untuk membawa saya lebih tenang.
Selalu ada jalan bahkan obat dalam bentuk apapun di kemudian harinya. Dengan
begitu semua pertanyaan2 yang ada di benak saya sebelumnya serta merta hilang
begitu saja berganti dengan rasa syukur yang berlebih. Seringkali ketika saya
merasa bingung, selalu ada keinginan untuk berbagi cerita. Pada saat yang sama,
saya bertemu dengan sahabat entah itu bertatap muka langsung –janjian- atau
lewat kecanggihan teknologi –hape atau internet- Seolah-olah saya tidak boleh
bersedih atau harus banyak bersyukur, sahabat saya selalu memulai ceritanya
terlebih dahulu dengan kata2 “ iya gue lagi bingung Dhit soal….gimana ya…” atau
“ Dhit, curhat dong…”. Memang sih percakapan itu selalu terjadi begitu saja,
saya tidak pernah berencana. Setelah mereka bercerita, kebingungan saya entah
kenapa ikut berkurang, saya merasa masalah saya tidak seberapa. Jadi, ketika
sahabat saya mulai dengan “ Lo sendiri gimana, Dhit…”. Saya lebih banyak
menjawab,” Ya sebenernya…tapi ga papa koq ternyata….”. Bukankah itu lebih baik
dari segudang analisa apapun. Perbincangan2 itu terkadang tidak memberikan
solusi sekaliber psikolog profesional, tapi paling tidak melegakan dan banyak
mengambil hikmah sendiri2. Yang lucu, ketika saya tidak sengaja chatting dengan
salah satu junior kuliah, dan dia bercerita mengapa dia bahagia hari ini. Saya
menimpali dengan kata2 yang saya tulis begitu saja tanpa makna, dan ternyata
saat itu juga dia langsung mengkopinya sebagai ilustrasi perasaannya saat itu
terbaca di ‘contact list’. Saya senyum2 sendiri membacanya, lalu saya tanya
kenapa begitu. Dia bilang kata2 saya adalah yang paling tepat melukiskan
perasaannya saat itu. Untuk membuat hidup ini indah ternyata tidak begitu
sulit, saya merumuskannya dengan tiga hal. Bersyukur, berfikir positif, dan
membahagiakan orang lain. Hopefully…

Sebenar-benar Cinta

Monday, July 17th, 2006

Karena belum bisa tidur, saya memutuskan untuk memutuskan untuk menonton TV. Kebetulan sekali tertera judul  film The Cider House Rules, agak males juga tapi berhubung tak kunjung mengantuk saya mulai menonton. Tokoh utama Toby Maguire (spiderman) sebagai Homer Wells, berlatar belakang Maine UK pada saat PD II, mengisahkan sebuah rumah yatim piatu di pinggir kota yang dipimpin seorang dokter kandungan yang menjadi tempat berlabuhnya para perempuan untuk menaruh bayi yang tidak diharapkan bahkan untuk menggugurkan kandungannya. Homer terlahir sebagai anak yang kurang beruntung, dua kali ditolak oleh orang tua adposi dan menderita kelainan jantung bawaan. Namun dimasa pertumbuhannya, dia dikelilingi orang2 yang sayang seperti orang tuanya termasuk dokter Larch. Dia sangat menguasai ilmu kedokteran termasuk didalamnya anastesi dan kandungan layaknya seorang dokter. Walaupun banyak memberikan kontribusi bagi dokter Larch, dia tidak pernah sekalipun pernah mau untuk melakukan tindakan aborsi. Suatu kali, datang sepasang kekasih, Candy dan Wally, yang hendak melakukan aborsi dan mereka pun berkenalan. Perkenalan ini membawanya untuk melihat dunia luar yang lebih menantang, dia bahkan belum pernah melihat laut apalagi lobster. Dengan berat hati, dia meninggalkan panti asuhan pergi bersama Candy dan Wally. Dia ditawarkan bekerja sebagai pemetik apel di kebun ibu Candy. Selama disana, dia merasakan hal yang berbeda dan terlibat cinta segitiga dengan Candy ketika Wally berada di medan perang. Dan berakhir pada sebuah pilihan apakan ia kembali ke Maine karena diminta oleh dokter Larch untuk menggantikannya, atau memperjuangkan cintanya. Homer malang, ternyata Candy lebih memilih Wally yang tertembak tentara Jepang dan menjadi lumpuh. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Maine menggantikan sang dokter yang ternyata telah wafat. Dia merasa panti asuhan-lah cinta yang sebenarnya, disana menunggu anak2 malang dengan segala kekurangan dan butuh perhatiannya. Dan ternyata cintanya terhadap Candy hanya cinta sesaat dan tanpa makna. Lumayan-lah nggak picisan2 banget, saya malah terenyuh ketika ada orang tua yang hendak mengadopsi datang dan mulai memilih, mereka berusaha menampilkan sisi terbaik mereka dengan wajah yang miris. Karena setiap anak2 yang tidak diinginkan orangtua biologisnya memiliki trauma psikologis yang menyebabkan berbagai penyakit bawaan sejak lahir, menjadikan mereka merasa terbuang dan tidak bermanfaat. Butuh jiwa besar untuk mengabdikan diri atau bahkan menghabiskan sisa waktu bersama mereka.

Being Mature

Monday, July 3rd, 2006
1. Marry the right person. This will determine 90% of your happiness or misery. 2. Work at something you enjoy and that's worthy of your time and talent. 3. Give people more than they expect and do it cheerfully. 4. Become the most positive and enthusiastic person you know. 5. Be forgiving of yourself and others. 6. Be generous. 7. Have a grateful heart. 8. Persistence, persistence, persistence. 9. Discipline yourself to save money on even the most modest salary.10. Treat everyone you meet like you want to be treated.11. Commit yourself to constant improvement.12. Commit yourself to quality.13. Understand that happiness is not based on possessions, power or prestige, but on    relationships with people you love and respect.14. Be loyal15. Be honest.16. Be a self-starter.17. Be decisive even if it means you'll sometimes be wrong.18. Stop blaming others. Take responsibility for every area of your life.19. Be bold and courageous when you look back on your life, you'll regret the things you    didn't do more than the ones you did.20. Take good care of those you love.21. Don't do anything that wouldn't make your Mom proud.