Archive for December, 2006

Cinta Baru…

Sunday, December 24th, 2006

…yang abu abu.
speechless…

What’s on my mind

Sunday, December 24th, 2006

Hatch, multiple line, offset, dan teman-temannya
Kepres dan kepres
mengambil hati orang orang baru
meraih nilai delapan
meng-upgrade TOEFL
diklat satu ke diklat lain
dan..
kacamata kamu

Silent

Friday, December 15th, 2006

[silent mode on]

Perak

Friday, December 15th, 2006

Kenapa harus perak,
rasakan kelembutan putih,
elegansnya hitam,
atau biru yang catchy,
kenapa harus perak.

c u on sunday

Pagi Penuh Hikmah

Monday, December 11th, 2006

Suatu jum’at pagi-pagi sekali, saya menyempatkan diri menemani ibu saya melepas kepergian tetangga kami yang hendak berhaji. Sang anak memberikan sepatah kata untuk ayah-ibunya, kira-kira begini bunyinya. "Dulu pertama kali Bapak menyampaikan niatnya untuk berhaji ketika saya masih SMP, saat itu selalu diakhiri dengan ucapan bapak-ibu saya yang sedikit miris, lha wong kehidupan kami pas-pasan..sampai kapan mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah ini. Saat itu pula saya bertekad dalam hati untuk sekolah dengan serius dan mencari pekerjaan yang menghasilkan uang banyak, melanjutkan S2 dan menghajikan kedua orang tua saya. Tapi saya terlalu takabur, saya bahkan belum genap satu tahun bekerja apalagi kuliah S2, tapi Allah berkehendak lain, melalui rizki yang lain juga bapak-ibu saya kemudian bisa segera melaksanakan ibadah haji ini". Belum sempat sang anak menyelesaikan kata-katanya, tanpa sadar air mata saya mengalir. Selain memang saya touchy abis, kata-katanya bermakna buat saya. Kadang ada begitu banyak pertanyaan dalam pikiran saya, sampai kadang-kadang saya tidak tau kemana mesti mencari jawabannya, selain berpasrah dan berdoa. Namun ketika Sang Rabbi berkenan menjawabnya disaat-saat yang tidak kita ketahui, bisa mendadak bisa juga butuh waktu, kita akhirnya bisa bilang inilah hikmahnya.

Rute Baru yang Lama

Sunday, December 3rd, 2006

Dan akhirnya saya ditakdirkan untuk menempuh rute lama. Dulu sejak TK sampai kelas enam SD, ketika teman teman saya berekolah di pusat kota, saya harus rela disekolahkan di pinggiran kota. Ibu bilang supaya bisa belajar agama. Saya harus bangun lebih pagi dan pulang menjelang sore. Saya kehilangan teman-teman bermain saya di rumah. Saat itu saya bertekad untuk sekolah di SMP yang berada di pusat kota, di jalan protokol, dan kanan kirinya kantor-kantor. Rute saya pun berubah, yang mulanya keluar jalan raya belok kanan, menjadi belok kiri. Mulai naik angkot, keren banget rasanya. SMA saya letaknya bersebelahan dengan SMP saya, jadi rute saya tetap sama. Ditambah ritual sedikit, diujung gang Merdeka 179, mengamati rumah cinta pertama :p cinta monyet yang berkesan. Disaat semua berlomba-lomba menyukai siswa populer, saya malah memilih dia. Dia bisa main basket tapi bukan klub inti. Dia bisa main gitar tapi nggak punya band. Dia fashionable tapi nggak terlalu dandy. Mau tau alasan saya menyukainya, berbincanglah dengannya walaupun hanya sepuluh menit. Kuliah membawa saya berpindah rute, berpindah hati. Sekarang takdir saya membawa saya ke rute lama meskipun bukan cinta lama.

Yang Kedua

Sunday, December 3rd, 2006

Kenapa ada yang kedua,
Apa aku tidak cantik lagi,
ingat umurku hampir empat puluh,
mungkin aku membosankan,
aku terlalu sibuk menyiapkan sarapan,
menemani mereka belajar,
sehingga lupa membaca koran,
untuk menjadi teman mengobrol yang menyenangkan,
atau aku terlihat gemuk,
bukankah ini resiko seorang ibu,
yang melahirkan darah dagingmu,
kenapa,
kenapa,
haruskah aku memulangkan padaNya,
untuk menyembuhkan luka.