Out of Comfort Zone
Friday, January 12th, 2007Berada dalam satu keadaan yang sama dalam waktu yang lama membuat zona kenyamanan tersendiri. Ternyata belakangan yang saya tahu, itu sama sekali akan memberikan dampak yang kurang baik. Baik bagi aktualisasi diri saya ataupun kematangan menghadapi sesuatu. Akhirnya, pelan-pelan saya mencoba keluar dari zona nyaman ini dan menjadi risktaker walaupun dalam tingkatan yang masih rendah.
Tidak selalu dibelakang meja…
Selama beberapa bulan bekerja dibelakang meja, merupakan sesuatu yang ‘aman’, ngga gerah, ngga menghadapi orang-orang yang terkadang makin aneh saja ulahnya. Pekerjaan baru ‘memaksa’ saya untuk melihat belahan Tangerang yang lain yang belum pernah saya kunjungi -terkadang jalannya hanya bisa dilewati oleh motor. Lama-lama saya mencintai pekerjaan ini, karena selain berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, pekerjaan ini melatih kepekaan saya untuk membedakan mana yang boleh atau yang tidak boleh dilakukan. Pekerjaan ini banyak mengurusi lahan fasilitas sosial yang sudah diserahkan ke pihak Pemda yang nantinya akan digunakan masyarakat untuk sarana dan prasarana sosial. Walaupun butuh sunblock -bukan conblock,sayang- yang spf-nya bisa mencapai 60 -seharian,bo-
Belajar menyetir…
Bertahun-tahun menjadi seseorang yang dibonceng, ditambah punya pengalaman buruk dengan beberapa kecelakaan, membuat saya enggan untuk belajar menyetir atau sekadar memiliki niatan untuk itu. Zona nyaman ini membuat ke-independen-an ini menjadi tidak seratus persen. Saya mulai berfikir untuk punya mobil dari keringat sendiri, setidaknya tengah tahun depan. Semoga ini tetap menjadikan saya untuk selalu membutuhkan seseorang, suatu saat nanti.
To fall in love again..
Awalnya terlalu rumit untuk difikirkan, tapi menyenangkan ketika sudah menjalaninya. Tidak sekejap pun ingin melepaskan 2-2-7 saya.